Hukum meninggalkan Sholat Jumat 3 kali

Ancaman Meninggalkan Jumatan 3 Kali


Bagaimana Hukumnya dengan Tidak Shalat Jum’at 3 Kali Berturut-Turut?

Hadits yang saudara tanyakan adalah shahih terdapat dalam Shahîh Muslim yang berbunyi :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali"karena meremehkannya"maka Allâh akan mengunci hatinya.”

Saat menjelaskan makna hadits ini, Imam Nawawi rahimahullah membawakan dua pendapat para Ulama tentang maksud “Allâh Azza wa Jalla mengunci hatinya“. Pertama, hatinya dari semua kebaikan; Dan kedua, dia dianggap sebagai munafik.

Pengertian yang kedua ini didukung oleh hadits lain yang diriwayatkan Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr dan di nilai hasan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ َالْمنَافِقِيْنَ

Siapa yang meninggalkan tiga kali shalat Jum’at"tanpa udzur"maka dia ditetapkan sebagai bagian dari kaum munafiqin

Lebih Lanjut:

Dalam hadits lain yang mauqûf kepada Ibnu Abbâs Radhiyallahu ahu dijelaskan :

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ مُتَوَالِيَاتٍ فَقَدْ نَبَذَ الإسْلاَم وَرَاءَ ظَهْرِهِ

Siapa yang meninggalkan shalat Jum’at 3 kali secara berurutan maka ia telah membuang Islam kebelakang punggungnya. [Hadits Mauqûf Riwayat Abu Ya’la rahimahullah dengan sanad yang shahih]

Sebagian kaum muslimin ada yang meninggalkan shalat Jum’at karena sikap meremehkannya serta lengah untuk menjunjung tinggi syi’ar-syi’ar agama Allah, yang dalam hal itu Dia telah menyatakan dengan firman-Nya:

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang-siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar agama Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” [Al-Hajj: 32]

Dan hendaklah orang yang suka mengabaikan shalat Jum’at mengetahui bahwa dengan demikian itu dia telah melakukan perbuatan dosa besar sekaligus kejahatan yang besar. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzabnya dengan mengunci mati hatinya, sehingga dia tidak akan pernah tahu suatu kebaikan dan tidak juga dapat mengingkari kemungkaran. Dia pun tidak akan pernah merasakan nikmatnya Islam serta tidak pula merasakan manisnya iman.

Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan Abu HurairahRadhiyallahu ‘anhu. Keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas pilar-pilar mimbarnya

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونَنَّ مِنَ الْغَافِلِيْنَ.

“Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jum’at atau Allah akan mengunci mati hati mereka yang kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai.”

At-Tirmidzi juga meriwayatkan dan menilainya hasan, serta dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani.

Dari Abu al-Ja’d adh-Dhamri Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.

“Barangsiapa meninggalkan tiga kali shalat Jum’atkarena meremehkannya, maka Allah akan mengunci mati hatinya.”

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban disebutkan

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَهُوَ مُنَافِقٌ.

“Barangsiapa meninggalkan shalat Jum’at tiga kalitanpa alasan yang dibenarkan, maka dia adalah seorang munafiq.”

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan


Kesimpulan :


Berdasarkan ini semua(tanpa alasan yang dibenarkan)maka meninggalkan shalat Jum’at termasuk dosa besar dan bila dilakukan berkali-kali dikhawatirkan bisa membuat pelakunya keluar dari Islam.


Dalam masalah Darurat sebagai mestinya:

Kajian Islam Ilmiah Tentang Taatlah Kepada Allah, Taatlah Kepada Rasul dan Ulil Amri

Kita sedang membahas makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّـهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا ﴿٥٩﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Ini adalah salah satu tahapan hijrah yang sangat besar kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dipembahasan terakhir kemarin telah kita baca sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengingatkan bahwa akan ada orang-orang yang nanti ketika datang padanya sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka dia seolah-olah membandingkannya dengan Al-Qur’an. Apa yang dia tidak dapatkan dari Al-Qur’an, maka hadits tersebut ditolak. Ini jelas pemahaman yang sangat keliru dan menyimpang.

Jadi, di dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk mentaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berpegang teguh dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama itu shahih. Maka kita wajib berpegang teguh dengannya meskipun tidak terdapat perintah tersebut secara persis. Karena secara umum Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an:


مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّـهَ

“Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisa[4]: 80)

Makanya orang-orang yang menolak hadits yang shahih dengan mengatakan tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, ini adalah kedustaan yang justru mendustakan Al-Qur’an itu sendiri.

Pembahasan lanjutan dari ayat yang kita bahas tadi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan kepada Ulil Amri.

Ketika menyebutkan “taat kepada Rasul”, diulangi. Menunjukkan taat kepada Rasul itu tersendiri, wajib untuk dilakukan selama ada berita dari hadits yang sahih yang sampai kepada kita.

Adapun Ulil Amri, tidak diulangi “ketaatan kepadanya”, tapi digandengkan dengan perintah ketaatan sebelumnya. Hal ini menunjukkan ketaatan kepada Ulil Amri harus termasuk di dalam ketaatan kepada Rasul. Yakni tidak boleh menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.

Diterangkan oleh Imam Ibnul Qayyim di sini bahwa adapun pemimpin di sini, maka tidak wajib kita mentaati salah seorang di antara mereka, kecuali kalau termasuk di dalam ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Jadi, ketaatan kepada Ulil Amri di sini harus sesuai dengan ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, harus dalam rangka taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Ini kaidahnya.
Sudah kita bahas tadi, taat kepada Allah, taat kepada Rasul, seandainya ada sebuah perintah di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak disebutkan di dalam Al-Qur’an secara dzatnya, maka tetap wajib untuk kita taati. Karena taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah termasuk ketaatan kepada Allah. Adapun kalau ketaatan kepada Ulil Amri harus benar-benar tercakup di bawah ketaatan kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bukanlah ketaatan yang berdiri sendiri. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

“Wajib bagi seorang manusia untuk selalu mendengarkan dan taat kepada pemimpin kaum Muslimin dalam hal-hal yang disukainya atau dibencinya selama tidak diperintahkan berbuat maksiat kepada Allah, maka jika dia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, jangan dia dengar dan jangan dia taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, ketaatan kepada pemimpin harus terikat dengan ketaatan dalam perkara yang dibenarkan dalam syariat, bukan dalam perkara yang merupakan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah rahasianya kenapa kalimat perintah di dalam ayat disebutkan:

أَطِيعُوا اللَّـهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ

Taatlah kepada Allah, (lalu diulang lagi) dan taatlah kepada Rasul. Setelah itu ketika mengatakan Ulil Amri tidak disebutkan lagi “taatlah kepada Ulil Amri”, tapi langsung digandengankan saja tanpa kata perintah “taatlah kepada pemimpin”. Ini menunjukkan ketaatan kepada pemimpin mengikuti ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni tidak boleh dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.

Marilah kita Sholat "bersama" ditempat masing masing, (Dengan "niat Sholat Fardhu berjamaah " memakai fasilitas Internet )

" Untuk mempererat hubungan persaudaraan Islam sesamanya, didalam menanggulangi "Bencana wabah" yang menimpah kita saat ini "

Allah SWT berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah aku saja.” (Al-‘Ankabut:56)

“Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk sholat) kecuali kuburan dan kamar mandi.” Dari hadits ini kita dapat menyimpulkan bahwasannya, semua bagian di muka bumi ini bisa kita jadikan sebagai tempat untuk beribadah kecuali kuburan dan kamar mandi. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan ibadah kepada Allah SWT, khususnya ibadah sholat.”

Semoga Allah SWT menerima "Ibadah dan Sholat kita" serta, "mengampuni Dosa kita, dan memberikan petunjuk kejalan yang "lurus" Amien YRA.

2020年03月27日